Kisah orang Indonesia di Belanda sudah sangat tua. Cees van Dijk (Di Negeri Penjajah/ KPG dan KITLV, 2008) menyebutkan, orang Indonesia yang pertama ke Belanda adalah utusan Sultan Aceh, yaitu Abdul Zamat, Sri Muhammad, dan Mir Hasan. Mereka tiba di Belanda akhir Juli 1602 atas undangan Pangeran Maurits. Waktu itu, Belanda masih dalam pertempuran 80 tahun melawan Spanyol dan di Asia mereka sama sekali belum punya kekuatan. Selang tiga tahun setelah kedatangan utusan Aceh itu, VOC merebut Ambon dari Portugis, dan pada 1619 mereka menghancurkan Jakarta.
Beberapa orang Belanda di VOC mulai mengirim budak ke Belanda untuk pamer dan VOC sendiri mengirim pangeran pribumi ke Belanda dengan alasan politis. Sejak itu, Belanda menjadi gerbang orang Indonesia ke Eropa. Mengingatkan pada kisah yang kontradiktif tentang ”Homo Bataviensis”, istilah yang dikenalkan De Haan (Oud Batavia, 1935) dan dikutip Bernard HM Vlekke (Nusantara: A History of Indonesia, 1961). Homo Bataviensis merupakan perkembangan dari ”Homo Batavus” atau orang Belanda asli yang telah bermigrasi ke Batavia. Di negara asalnya, Belanda, kebanyakan mereka termasuk kelas miskin dan datang ke Hindia Belanda sebagai pelaut atau serdadu. Begitu berhasil, mereka pun enggan pulang ke Belanda.
De Haan memperkirakan jumlah Homo Bataviensis ini tak lebih dari 10.000 jiwa, hanya bagian kecil dari penduduk Indonesia. Tetapi, jumlah yang tak seberapa ini berperan dominan dalam politik dan ekonomi Indonesia. Bedanya, di Belanda, perantau (TKI) asal Indonesia saat ini adalah orang-orang yang tak diperhitungkan dalam struktur perekonomian dan politik negeri itu. Bahkan, banyak di antara mereka yang tanpa izin kerja alias tidak diakui keberadaannya.
Barangkali para pekerja lintas negara asal Indonesia di Belanda berpikir, dahulu para Homo Bataviensis sejak dari Herman Willem Daendels hingga Johannes van Den Bosch juga tak memakai visa kerja saat di Indonesia. Entahlah. Yang pasti, ribuan pekerja dari pelosok Nusantara ini pergi ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Belanda, karena di negara sendiri tak memberi cukup peluang untuk hidup layak.
[ Sepenggal cuplikan dari : Kompas, 5 Nopember 2008, hal.1 ]
Beberapa orang Belanda di VOC mulai mengirim budak ke Belanda untuk pamer dan VOC sendiri mengirim pangeran pribumi ke Belanda dengan alasan politis. Sejak itu, Belanda menjadi gerbang orang Indonesia ke Eropa. Mengingatkan pada kisah yang kontradiktif tentang ”Homo Bataviensis”, istilah yang dikenalkan De Haan (Oud Batavia, 1935) dan dikutip Bernard HM Vlekke (Nusantara: A History of Indonesia, 1961). Homo Bataviensis merupakan perkembangan dari ”Homo Batavus” atau orang Belanda asli yang telah bermigrasi ke Batavia. Di negara asalnya, Belanda, kebanyakan mereka termasuk kelas miskin dan datang ke Hindia Belanda sebagai pelaut atau serdadu. Begitu berhasil, mereka pun enggan pulang ke Belanda.
De Haan memperkirakan jumlah Homo Bataviensis ini tak lebih dari 10.000 jiwa, hanya bagian kecil dari penduduk Indonesia. Tetapi, jumlah yang tak seberapa ini berperan dominan dalam politik dan ekonomi Indonesia. Bedanya, di Belanda, perantau (TKI) asal Indonesia saat ini adalah orang-orang yang tak diperhitungkan dalam struktur perekonomian dan politik negeri itu. Bahkan, banyak di antara mereka yang tanpa izin kerja alias tidak diakui keberadaannya.
Barangkali para pekerja lintas negara asal Indonesia di Belanda berpikir, dahulu para Homo Bataviensis sejak dari Herman Willem Daendels hingga Johannes van Den Bosch juga tak memakai visa kerja saat di Indonesia. Entahlah. Yang pasti, ribuan pekerja dari pelosok Nusantara ini pergi ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Belanda, karena di negara sendiri tak memberi cukup peluang untuk hidup layak.
[ Sepenggal cuplikan dari : Kompas, 5 Nopember 2008, hal.1 ]
